Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang terus berlari cepat, masih ada mereka yang berjalan pelan—bahkan tertatih—sekadar untuk memastikan dapur tetap mengepul. Bagi sebagian orang, beras hanyalah kebutuhan harian yang nyaris tak pernah dipikirkan. Namun bagi kaum dhuafa, sebutir beras adalah harapan, dan sekantong beras adalah penopang hidup.

Program Berbagi Beras Dhuafa lahir dari kesadaran sederhana: bahwa kepedulian tak harus menunggu kelimpahan. Ia bermula dari empati, dari keinginan untuk meringankan beban sesama, dan dari keyakinan bahwa berbagi adalah bahasa paling jujur dari kemanusiaan.

Beras yang dibagikan mungkin tampak sederhana—tak mewah, tak berkilau. Namun di tangan para penerima, beras itu menjelma menjadi ketenangan. Ia menjadi penghapus cemas bagi ibu-ibu yang memikirkan esok hari, menjadi penguat bagi para lansia yang hidup sendiri, dan menjadi senyum kecil bagi keluarga yang berjuang dalam keterbatasan.

Lebih dari sekadar bantuan pangan, Berbagi Beras Dhuafa adalah jembatan kasih. Ia mempertemukan hati yang memberi dengan hati yang menerima, tanpa sekat status sosial. Dalam setiap penyalurannya, terselip doa-doa tulus—doa agar hidup menjadi lebih ringan, agar rezeki diluaskan, dan agar kepedulian tak pernah padam.

Kegiatan ini juga mengajarkan kita bahwa berbagi bukan tentang seberapa besar yang kita punya, melainkan seberapa ikhlas kita memberi. Satu karung beras yang terkumpul dari banyak tangan adalah bukti nyata bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya ketika dilakukan bersama-sama.

Di mata para dhuafa, kehadiran program ini bukan hanya soal bantuan, tetapi tentang diingatkan bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang mengetuk pintu dengan senyum, dan masih ada harapan untuk bertahan dan melangkah ke hari berikutnya.

Semoga Berbagi Beras Dhuafa terus menjadi gerakan yang menghidupkan nurani—menumbuhkan rasa syukur bagi yang memberi, serta menghadirkan kehangatan bagi yang menerima. Karena sejatinya, saat kita berbagi, yang kita kuatkan bukan hanya mereka, tetapi juga kemanusiaan dalam diri kita sendiri.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder
Open chat
Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk bertanya kepada kami.