Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW melintasi ruang dan waktu. Ia adalah peristiwa agung yang sarat makna, mengandung pesan spiritual mendalam, dan menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah Islam. Setiap tahun, umat Islam memperingatinya bukan hanya untuk mengenang kejadian bersejarah, tetapi juga untuk merenungi pesan langit yang dititipkan kepada manusia.
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Setelah wafatnya dua sosok pelindung—istri tercinta Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib—Nabi menghadapi penolakan, hinaan, dan kekerasan dari kaum Quraisy. Inilah masa yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Dalam kondisi batin yang terluka, Allah SWT justru memuliakan Rasul-Nya dengan sebuah perjalanan yang melampaui batas nalar manusia.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, sementara Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsha menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan ini ditempuh hanya dalam satu malam, dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Di sanalah Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu—ibadah yang menjadi tiang agama dan penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Makna terbesar Isra Mi’raj terletak pada perintah shalat. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana penyucian jiwa, penenang hati, dan penguat iman. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan dan distraksi, shalat menjadi ruang hening tempat manusia kembali menemukan makna hidup dan arah tujuan. Ia mengajarkan kedisiplinan, keikhlasan, dan ketundukan total kepada Allah SWT.
Peringatan Isra Mi’raj tahun 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri. Apakah shalat yang kita kerjakan selama ini sudah benar-benar menjadi kebutuhan ruhani, atau sekadar rutinitas tanpa makna? Apakah shalat telah membentuk akhlak kita menjadi pribadi yang jujur, sabar, dan peduli terhadap sesama?
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa setelah kesulitan akan datang pertolongan. Ketika Nabi berada di titik terendah secara emosional, Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Pesan ini relevan bagi siapa pun yang tengah diuji kehidupannya. Bahwa kesabaran, keistiqamahan, dan keimanan tidak akan pernah sia-sia. Allah selalu punya cara indah untuk menguatkan hamba-Nya.
Selain itu, perjalanan Nabi ke Masjidil Aqsha menegaskan pentingnya persatuan umat Islam dan kesucian tempat-tempat ibadah. Masjidil Aqsha bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama oleh umat Islam di seluruh dunia.
Di era saat ini, tantangan umat Islam semakin kompleks. Nilai-nilai moral sering kali tergerus oleh arus materialisme dan individualisme. Melalui peringatan Isra Mi’raj, umat diajak untuk kembali meneladani akhlak Rasulullah SAW—akhlak yang luhur, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi keadilan.
Mari kita jadikan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas iman dan ibadah kita. Bukan hanya dengan seremonial, tetapi dengan perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan kepedulian sosial. Semoga shalat yang kita dirikan menjadi cahaya dalam kehidupan, penuntun di dunia, dan penyelamat di akhirat.
0 Komentar