Sahur bukan sekadar makan sebelum fajar. Ia adalah jeda sunyi antara malam dan siang, saat manusia diajak menyiapkan diri—bukan hanya fisik, tetapi juga jiwa—untuk menunaikan ibadah puasa. Di situlah waktu menjadi amanah, dan batasan menjadi pengingat akan ketaatan.

Dalam Islam, batas akhir makan sahur ditentukan dengan jelas: ketika terbit fajar shadiq, yaitu saat masuknya waktu Subuh. Pada titik inilah puasa dimulai, dan segala yang membatalkan puasa—makan, minum, serta hubungan suami istri—harus dihentikan. Allah ﷻ berfirman:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini mengajarkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat terkait dengan ketepatan waktu. Tidak boleh dimajukan, tidak boleh diundur. Sebab dalam ketaatan, sekecil apa pun pelanggaran batas bisa mengurangi nilai ibadah itu sendiri.

Sering kali, kita tergoda untuk “menghabiskan satu suapan terakhir” saat adzan Subuh mulai berkumandang. Padahal, kehati-hatian dalam menghentikan sahur sebelum fajar bukanlah bentuk kerugian, melainkan wujud ketakwaan. Menjaga batas sahur berarti melatih kejujuran pada diri sendiri—bahwa kita berpuasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan keinginan untuk melanggar aturan.

Demikian pula waktu berbuka. Puasa berakhir saat matahari terbenam, bukan lebih cepat, bukan pula ditunda tanpa alasan. Ketepatan berbuka adalah simbol keseimbangan: Islam tidak mengajarkan penyiksaan diri, tetapi juga tidak membenarkan sikap meremehkan aturan.

Puasa mengajarkan bahwa hidup memiliki batas. Ada waktu untuk menahan, dan ada waktu untuk menikmati. Ada saat kita berkata “cukup”, dan ada saat kita bersyukur. Dari sahur hingga berbuka, kita sedang belajar disiplin, kesabaran, dan kepatuhan—nilai-nilai yang jauh melampaui urusan makan dan minum.

Maka, ketika kita menjaga batas sahur dan waktu berpuasa, sesungguhnya kita sedang menjaga hati. Sebab ibadah yang dilakukan tepat waktu adalah cermin dari jiwa yang sadar, tunduk, dan penuh harap akan ridha-Nya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder
Open chat
Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk bertanya kepada kami.